Jumat, 29 Juli 2011

BH

Di sebuah rumah kontrakan di pinggir jalan desa Sukasuka di huni oleh pasangan suami istri pengantin baru.

Kamar mandi rumah tersebut terletak di depan rumah, tepatnya berada di pinggir jalan. Kamar mandi tersebut hanya di batasi oleh dinding dengan ketinggian sekitar 1 meter atau setengah badan.

Istri : "Tadi pas aku buka BH ada pria ganteng ngeliatin aku terus…"

Suami : "Terus apa yang kamu lakukan ?"

Istri : "Aku malu banget mas, aku tutupin aja muka aku pakai BH"

Suami : "Dasar dodol…."

Kamis, 28 Juli 2011

BANK PEMBANTU XXX

Pada suatu hari nampaklah massa berkerumun didepan sebuah bank yang tergolong baru buka cabang disitu. Sekelompok pria dan wanita muda melakukan demontrasi menuntut hak dan keadilan karena lamaran mereka untuk menjadi karyawan pada bank tersebut ditolak. Spanduk dan Poster dibentangkan dihalaman depan Bank XXXXX sehingga sempat memacetkan lalu lintas sekitar tempat kejadian. Dalam keadaan biasa, daerah sekitar Roxy-Jakarta Barat situasi lalu lintas sudah padat-merayap apalagi ada demonstrasi. “Jelek-jelek begini saya pernah kerja dengan orang Korea”, teriak seorang demonstrator yang ternyata wanita muda. “Saya pernah kerja dengan Jepang”, sambung yang lainnya “Saya pernah kerja di Arab Saudi”, yang lainnya berteriak. Usut punya usut, bank yang baru dibuka tersebut yang menuliskan papan nama “BANK PEMBANTU XXXXX” ternyata membuka lowongan untuk merekut pegawai. Para pembantu rumah tangga beranggapan bahwa bank tersebut khusus untuk para pembantu (rumah tangga). Maka berbondong-bondong dengan penuh antusias mereka mengajukan surat lamaran kerja. Setelah dijelaskan duduk perkaranya, satu persatu para “demonstran” tadi meninggalkan tempat sambil bersungut-sungut.
“Mangkanya jangan pakai papan nama Bank Pembantu dong, kirain banknya para pembantu”

Selasa, 26 Juli 2011

PENGANTEN LUCU

Ketawa Yuuu,,,,,,!!!!

12 Feb
Kembali saya sisipkan cerita berupa humor yang menjadi salah satu cermin dari warna-warni hidup kita, hidup itu sungguh penuh warna, merah, kuning, hijau, oppss,,,,!!! kok jadi kaya pelangi ya,,,??? he he he,,,, tapi betul lho hidup itu penuh pernak dan pernik, ada lucu, ada gak lucu, ada tragedi, ada komedi,  ada suka, ada duka, ada tawa, dan ada air mata, tinggal kita mau fokus ke mana dengan resiko ditanggung sendiri,,,,,!
Canda kadang menjadi serius, namun hidup tanpa canda jadi kering kerontang, Oke dech,,,,yuk kita simak humor-humor dibawah ini,,,,,, CEKIDOTT,,,,,!!! he he he,,,,,
Pengantin Baru
Ada sepasang pengantin baru Nono dan Nani, suatu kali mereka mengalami gangguan kesehatan, setelah diperiksa dengan teliti, dokter menyimpulkan hal itu disebabkan oleh frekuensi hubungan seks yang terlalu tinggi.
“Sebaiknya untuk sementara kalian batasi dulu kegiatan seks, tiga kali saja seminggu, untuk memudahkan mengingat, saya sarankan untuk melakukan hubungan intim hanya pada hari yang berawalan dengan S, yaitu Senin, Selasa dan Sabtu” saran dokter.
Akan tetapi, pada malam ketiga Nono tidak tahan lagi, ia mencumbui istrinya yang sedang tidur sampai terbangun.
“hari apa ini mas?” tanya Nani.
“Sumat”.
*Jangan jadikan keinginan, hasrat dan nafsu sebagai raja atas kita, menguasai dan mengendalikan kita, sebaliknya, usahakan kendali selalu ada ditangan kita, sehingga kitalah yang menyetirnya kearah yang terbaik menurut kita.*
Mencontoh Ayam
Suatu kali Adun mengajak istrinya Mirnah pergi berlibur ke suatu peternakan ayam dipinggir kota, yang empunya menemani mereka melihat-lihat peternakan. Tiba-tiba seekor ayam jantan berlari mengejar seekor ayam betina, ketika “dapat” langsung saja “diterkam”, anehnya si ayam betina tak memberikan perlawanan, kejadian ini tak luput dari perhatian Adun dan Mirnah.
“Pak, berapa kali si ayam jantan ini “menerkam” si ayam betina sehari?” tanya Mirnah
“ya kira-kira 4 atau 5 kali sehari” jawab si pemilik peternak.
Mirnah terbelalak, lalu memandang Adun, “pak, apa kamu nggak dengar itu?”
Adun tak kaget, lalu  mengajukan pertanyaan kepada si pemilik ternak “pak, sudah berapa ayam betina yang “diterkam” si ayam jantan ini?”
Pemilik ternak menjawab, “kami punya banyak kandang ayam, dalam satu kandang, kami tempati satu ayam jantan, betinanya ada 20 ekor dalam satu kandang”
Adun memandang Mirnah dan berkata, “Bu, apa kamu nggak dengar itu?”
#Hati-hati dengan sikap “menang-manangan” sebab biasanya malah nggak ada yang menang, paling baik bersikap win-win solution, iya kan,,,#
Penyuluhan Kesehatan
Seorang dokter muda berparas cantik dari kota melakukan penyuluhan kesehatan di desa Nanang. Nanang, Agus dan Rudi ikut dalam acara tersebut. Kepada penduduk desa yang sudah berkumpul, dokter itu berkata, “menjaga kesehatan diri sendiri dimulai dari bagaimana menjaga kebersihan pakaian”, lalu dokter itu menoleh kearah bapak-bapak, “saya ingin tahu, seberapa seringkah bapak-bapak mengganti celana dalam?”
Rudi     : (agak malau-malu) “kalo saya sih cukup sehari sekali”
Agus    : “payah! saya 3 kali sehari”
Dokter: “bagaimana pengitungannya?”
Agus    :  “pagi hari setelah mandi, sore hari dan malam hari sebelum tidur”
Nanang: “gitu aja sombong,,,!!! saya 12 kali,,,,!!”
Dokter: “wah… itu bagaimana ngitungnya?”
Nanang: “Januari, Februari, Maret,………”
#Setiap orang punya cara sendiri menafsirkan sesuatu,  jadi, jangan melakukan tindakan sebelum yakin benar bahwa tafsir anda benar.

Senin, 25 Juli 2011

Keong Racun

Srikandi terpanah asmara si Keong Racun



Gadis lesung pipit itu matanya tiada henti menatap sepasang pengantin yang sedang duduk di pelaminan. Ia datang ke tempat hajatan pengantin karena rasa penasaran ingin tahu seperti apa menjadi pengantin itu.
Nama gadis itu adalah Srikandi, putri kedua Prabu Drupada raja dari negara Cempalareja. Sedangkan sepasang pengantin yang tengah berbahagia itu adalah Arjuna yang mempersunting Sembadra. Laki-laki tampan berjodoh dengan perempuan jelita. Begitulah perkawinan agung di antara dua pembesar kerajaan. Srikandi begitu takjub dengan meriahnya pesta perkawinan maupun tingkah-polah sepasang pengantin yang tengah mabuk asmara sundul langit ke enam belas. Sungguh, jantung Srikandi bergolak hebat. Gadis yang belum genap berumur dua puluh tahun itu ingin sekali menjadi pengantin.
Wajar jika Srikandi ngebet kawin, karena sehari-hari ia menyaksikan kemesraan kakaknya, yang tak lain mBakyu Drupadi yang diperistri oleh Yudhistira. Yang tidak wajar adalah Srikandi ingin diperistri oleh Arjuna, pengantin pria yang dengan sangat cepat menumbuhkan asmara di hatinya. Wahai, gamelan yang bertalu-talu semakin menggelorakan cintanya pada Arjuna. Cinta pada pandangan yang ketiga.
Berhari-hari setelah ia menghadiri pesta perkawinan ia pun menyusun siasat bagaimana bisa merebut hati Arjuna. Ia mematangkan siasatnya ketika libur semester genap kuliahnya. Dengan langkah kaki yang mantap ia berjalan menuju kediaman Arjuna. Tetapi, sebelum ia masuk ke pintu gerbang rumah Arjuna ia mendengar sayup-sayup ketawa manja seorang perempuan yang berasal dari samping rumah. Ia pun mengendap mencari posisi wuenak untuk mengintip.
Oh, Srikandi terlonjak kaget saking cemburunya. Ia menyaksikan Arjuna sedang mengajari memanah seorang perempuan cantik yang bernama Rarasati, salah satu gundik Arjuna. Bagaimana Srikandi tidak terbakar oleh api cemburu, Rarasati pura-pura tidak bisa memegang anak panah, sehingga Arjuna akan mengajarinya dan itu menyentuh tangan Rarasati. Dasar Arjuna, tidah hanya menyentuh, ia juga meremas mesra jemari lentik Rarasati.
Dengan nekat, Srikandi masuk ke halaman rumah Arjuna dan minta diajari memanah juga. Selanjutnya, hari-hari Srikandi hanya belajar memanah dan memanah, dan ia bahkan sering bolos kuliah, dan celakanya, sebagai seorang Narablog tersohor, ia mulai menelantarkan blog-nya. Tingkah Srikandi ini jelas membuat murka mBakyu Drupadi yang menganggap kalau perbuatan Srikandi melanggar norma kesusilaan.
Demikianlah, mBakyu Drupadi mengadu kepada ayahnya perihal tingkah laku Srikandi yang bisa mencoreng martabat keluarga. Prabu Drupada segera menghubungi raja Parangkubarja, untuk menjodohkan Srikandi dengan Jungkungmardea, putra mahkota Parangkubarja.
Gojleng-gojleng singkat cerita, dipertemukanlah Srikandi dengan anak Parangkubarja. Bisa diduga kalau Srikandi menolak perjodohan itu. Secara fisik, kemolekan Srikandi tidak pas disandingkan dengan Jungkungmardea si jejaka tua itu. Tetapi karena merasa sakti mandraguna dan jatuh cinta kepada Srikandi, Jungkungmardea akan menerjang apa pun yang menghalangi memiliki Srikandi. Tiba-tiba saja ia berprinsip, cinta itu harus memiliki.
Srikandi berlari menuju rumah Arjuna dan mengadukan nasibnya. Dengan tangan terbuka ia terima Srikandi, dan dalam pelukan hangatnya Srikandi menumpahkan keluh kesahnya. Arjuna, yang oleh kalangan sosialita dijuluki si Keong Racun itu semakin mempererat pelukannya, seraya berbisik mesra di telinga Srikandi.
“Akang ada di sampingmu, sayangku. Kamu tenang saja ya,” kata Arjuna lembut sambil mengelus rambut Srikandi.
Srikandi makin terlena ketika Arjuna membimbingnya terbang ke awan biru, dan …… “Duarrrrr!!!!!”
Jungkungmardea mendobrak kamar Arjuna. Matanya nanar menyaksikan Srikandi yang terurai rambutnya. Ia bimbang sejenak, siapa dulu yang akan dihajarnya, Arjuna-kah atau Srikandi? Bergegas ia menuju sudut kamar untuk menampar Srikandi. Api kemarahan bercampur kecewa siap ia lampiaskan di pipi mulus Srikandi.
Tetapi, ketika tangan Jungkungmardea terangkat dan siap menghanjar Srikandi, melesat sebatang anak panah dan mengenai punggung dan tembus di dadanya. Ia tersungkur. Tewas.
Tancep kayon.

"SEJARAH SRIKANDI"

Srikandi dalam Mahabharata

Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.
Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya. Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.

[sunting] Perang di Kurukshetra

Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur. Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

[sunting] Srikandi dalam Pewayangan Jawa

Srikandi dikisahkan lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.
Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.
Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang dendam kepada Bisma.
Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha.