Jumat, 26 Agustus 2011

Ma'Na LeBa Ra n

Makna Lebaran (Idul Fitri)


Idul FitriLebaran merupakan siklus tahunan yang senantiasa  datang dan pergi, berputar secara kontinyu. Karena sifatnya yang demikian inilah ia disebut dengan ‘Id, yang secara etimologi (lughat) berarti ulangan atau putaran.
Namun jika dimaknai secara sempurna lebaran (dalam ajaran Islam) bukan hanya karena perputaran dan siklus secara berulang-ulang datangnya, tapi mesti merujuk pada kata selanjutnya yaitu Al Fithr. Al Fithr inilah sesungguhnya inti dari lebaran dalam ajaran  Islam, sehingga perlu kita cermati dan kita kritisi hakekat maknanya secara mendalam. Karena kesalahan dalam memahaminya akan berakibat kegagalan dalam menyelami makna terdalam yang ada di dalamnya.
Istilah Al Fithr pada dasarnya terkait erat dengan konsep kesucian pembawaan (Al Fithrah) dalam ajaran Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam untaian mutiara  kalam Nabi Muhammad SAW, yaitu :
Kullu Mauludin Yuuladu ‘alal Fitrah
“(setiap manusia dilahirkan dari perut ibunya dalam keadaan  suci dan bersih)”
Konsep fitrah yaitu suatu pembawaan manusia berupa ajaran tauhid ketuhanan yaitu penyaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Sehingga secara alami/natural manusia itu bersifat hanif (mencari yang benar/kebenaran).
Maka dengan datangnya Idul Fitri  tahun ini sebenarnya merupakan momen yang tepat untuk merefleksikan diri (secara personal) tentang pembawaan diri kita yang fithrah dan hanif. Dari sini kemudian diharapkan akan tumbuh sikap instrospeksi secara obyektif sehingga gunungan karang-karang kedloliman yang telah menodai kefithrahan dapat tersucikan secara bersih.
Untuk menggapai fithrah dan hanif tidak bisa terlepas dari pelaksanaan ibadah puasa di bulan Ramadlan yang telah kita laksanakan kemarin.
Banyak manusia yang melakukan puasa di bulan Ramadlan tapi (tidak sedikit) dari mereka hanya mendapatkan lapar dan haus, sebagaimana sabda Rasul : Kam min shaimin laisa lahu min shiyamihi illalju’i wal ‘athasyi, berapa banyak dari mereka yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa, kecuali rasa lapar dan haus.”
Jika kita pahami makna hadis di atas secara mendalam dapat kita ambil suatu kesimpulan bahwa dalam aktifitas puasa yang diutamakan bukan hanya pada keadaan lapar dan haus saja, tapi yang lebih penting dan utama  adalah kemampuan mengendalikan diri (hawa annafs), Sehingga prosesi puasa yang hanya mengutamakan rasa lapar dan haus saja tak akan bermakna sama sekali secara ruhaniyah.
Oleh karena itu  untuk memahami hakekat dari puasa perlu kita lihat kembali konsep dasar dari puasa itu sendiri yaitu denga tujuan “la’allakum tattaqun” supaya kita menjadi orang-orang yang bertakwa (Al Baqarah :183).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Secara vertikal (doktrin KeTuhanan), taqwa bermakna suatu sikap penghambaan diri pada Allah dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya secara kontinyu. Sedangkan secara horisontal (doktrin kemanusiaan) Taqwa bermakna suatu sikap hidup yang dapat berdampingan dengan lingkungannya secara damai dan tentram tanpa ada persengketaan dan sebagainya.
Sedangkan makna taqwa sejati adalah kemampuan mengintegrasikan kedua makna taqwa di atas ke dalam diri setiap individu secara totalitas (kaffah).
Dengan pemahaman demikian berarti puasa dapat dipahami sebagai proses menuju kesejatian diri, menuju taqwa. Karena lewat  aktivitas puasa inilah  tercipta Riyadlotun Nafs (olah jiwa). Dengan olah jiwa ini secara berkelanjutan akan dapat mengokohkan Himyah (penjagaan) dan Junnah (perlindungan) diri manusia dari  dorongan-dorongan nafsu syahwati hayawan (hedonisme), kenikmatan-kenikmatan sesaat, hasrat pengrusakan, penjarahan, perampasan dan rangsangan -rangsangan untuk menindas serta sikap-sikap non fithriyah lainnya. Karena hakekat dari puasa adalah Imsak dan Wara’ yaitu pengendalian diri serta penjagaan diri dari perbuatan-perbuatan mungkar.
Dari uraian di atas dapt kita pahami sesungguhnya ibadah puasa yang baru saja kita laksanakan merupakan suatu proses transformasi spiritual . Artinya bahwa puasa merupakan suatu proses membangun dan mendidik diri sehingga terwujud perubahan-perubahan dalam pola tingkah lakunya secara positif (secara kwalitas maupun kwantitas) untuk meraih derajat muttaqin / orang yang bertaqwa.
Antara pra puasa dan pasca puasa terjadi grafik meningkat / naik dalam beramal shalih dan upaya taqarruban ilAllah , inilah ukuran dalam aktifitas bulan Ramadlan sehingga selepas Ramadlan ini hendaknya kita segera mengevaluasi diri dan melakukan perenungan dengan mata hati, mengasah nurani kita sejauh mana aktifitas Ramadlan telah teraktualisasikan dalam kehidupan kita selanjutnya. Patut kita tanyakan pada diri kita :
Sudah Fithrikah kita ketika kita hidup berkecukupan sementara tetangga kita pendapatan hari ini munkin tidak mencukupi untuk esok hari.
Sudah Fithrikah kita ketika orang-orang di sekitar kita membutuhkan uluran tangan kita, sedangkan kita kadang-kadang acuh tak acuh dsb.
Hal ini penting karena pada kenyataanya dari pengalaman tahun yang lalu Ghirrah ke Islaman kita masih terkotak hanya pada bulan Ramadlan saja , pengekangan-pengekangan hawa nafsu seolah hanya pada bulan Ramadlan saja selebihnya pada 11 bulan lainnya hanya rutinitas sehingga nilai-nilai Ramadlan dengan segala kelebihannya tak terpraktekkan sama sekali.
Agaknya inilah barangkali kelemahan atau kesalahan kita dalam memahami Ramadlan atau ajaran Islam secara totalitas. Ramadlan dipahami sebagai bulan ibadah tapi kemudian tanpa meninggalkan bekas atau perubahan pada perputaran waktu selanjutnya, inilah realita yang ada pada kita yang perlu kita luruskan perlu kita reformasi.
Dengan perenungan-perenungan di atas nurani dan jiwa kita dapat mendomonasi dalam setiap langkah kita, selau merasa bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan serta mengasah nurani kita untuk bersikap welas asih mengasihi dan menyayangi pada sesamanya, sehingga kita dapat meraih makna Idul Fitri dengan pemahaman yang benar sesuai dengan ajaran Islam.
Idul Fitri tidak hanya dipahami sekedar berbaju baru, makan ketupat, budaya konsumerisme, pameran materi dan kemegahan dunia dsb, karena pemahaman yang demikian hanya menonjolkan unsur lahiriyah tanpa peresapan lebih jauh secara ruhaniyah dan juga akan semakin mempertajam kesenjangan dan sangat bertentangan dengan hakekat Idul Fithri, yaitu menciptakan solidaritas dan semangat kebersamaan serta cinta kasih.
Untuk itu mari Idul Fitri sekarang ini terlebih lagi di tengah berbagai musibah yang sedang menimpa  Negeri tercinta ini , kita gunakan sebagai moment untuk introspeksi atas puasa kita sebagai manifestasi ( Hablum MinAllah ) dan instrospeksi serta mawas diri terhadap realitas kehidupan sosial kita sebagai manifestasi (Hablum Minannas). Jangan sampai kita memonopoli kebahagiaan ini, karena sesungguhnya masih banyak jutaan saudara kita yang butuh santunan dan perhatian dari kita, masih banyak saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan sehingga pantaskah dalam kondisi yang demikian kita memonopoli kebahagiaan dengan sikap boros, konsumeris dsb, padahal kita lahir dalam keadaan yang sama, polos tanpa ada kelebihan sedikitpun di antara kita. Oleh karena itu hidup saling mengasihi menjadi suatu keniscayaan dan inilah yang harus kita refleksikan dalam kehidupan kita. Serta Idul Fitri ini sebenarnya ujian awal bagi kita selepas ibadah puasa Ramadlan, sejauh mana kemampuan kita menterjemahkan nilai-nilainya dalam realitas kehidupan kita sehari-hari pasca bulan tersebut.
Namun yang jelas dan perlu kita sadari bahwa untuk mewujudkan pesan la’allakum tattaqun, tak dapat hanya dengan menjalankan aktifitas ibadah di bulan Ramadlan saja, tetapi sebaliknya esensinya ada pada sebelas bulan selanjutnya, karena Ramadlan hanya ajang training dan latihan, ajang penggodokan dan pengkaderan, secara rasional orang yang sehabis mendapatkan training dapat meningkatkan atau minimal menerapkan keilmuannya sesuai dengan bidangya masing-masing. Kalau yang terjadi sebaliknya, dalam konteks transformasi spiritual berarti telah gagal menjalani training dan tentunya derajat taqwa tidak akan tercapai, karena derajat agung ini hanya dapat diraih dengan kesungguhan, prestasi dan aktivitas ibadah secara kontinyu dan terus menerus.

Jumat, 12 Agustus 2011

Mr.Ben Po Rah


Cerita Lucu Obrolan Orang Singapore dan Malaysia

mr-bean.jpg

Seorang turis asal Singapura(spore) sedang berlibur di Malaysia. Dia sedang menikmati sarapan pagi di Coffee House hotel dimana dia menginap. Seorang warga Malaysia(datuk) sambil mengunyah Permen Karet duduk disebelahnya dan mulai mengajaknya ngobrol dgn santai.

Datuk : "Kalian orang2 Singapura memakan keseluruhan roti ya..?"
Spore : "Tentu saja"
Datuk: "Kami tidak. Di Malaysia kami hanya memakan bagian dalamnya saja. Bagian kulit luar roti yang kering kami kumpulkan ke dalam kontainer, diolah, &di produksi menjadi roti croissants utk di ekspor ke Singapura"

Datuk lalu tersenyum puas ketika melihat si Spore terdiam seribu bahasa tanpa bisa menjawab.

Datuk : " Apakah kalian org singapura makan roti dengan selai ?"
Spore: "Tentu saja"
Datuk : "Kami tidak. (sambil tertawa kecil)
Di Malaysia kami makan buah segar di waktu sarapan. Kami kupas kulitnya dan kami kumpulkan di kontainer, diolah, di produksi menjadi selai.
Lalu di ekspor ke Singapura"

Kali ini, si Spore balas bertanya : "Apakah kalian, orang-orang Malaysia melakukan hubungan sex?"
Datuk : "Kenapa ? tentu saja kami melakukan hubungan sex"
Spore : "Apakah bangsa kalian menggunakan 'pengaman' ?"
Datuk : "Oh Tentu, tentu saja !! Bangsa Kami sdh maju spt Singapura, jadi kami menggunakan kondom"
Spore : "Lalu, apa yang kalian lakukan dengan kondom yang telah digunakan ?"
Datuk : "Tentu saja Kami buang"
Spore : "Kami tidak. Di Singapura, kondom2 tersebut dikumpulkan ke dalam kontainer, di lebur, dibuat permen karet!

" CINTA PUTIH "

Ada bayang yang tak pernah pergi
Ada nama yang s’lalu mendiami
serta seutas wajah yang menerangi
Pada hati…bangkitkan semangat diri
tuk lalui hari-hari
Meski kutau bagiku takkan mungkin lagi ada dirimu
Tetap saja kubiarkan engkau mendiami seluruh taman asa
di antara kuntum bunga mawar yang pernah ada diantara kita
Merekah indah diantara ‘harap dan nyata’
Ada keyakinan yang tak terbeli
Oleh ribuan hari-hari penantian hati
Susuri hidup… walau tertatih seorang diri
dan kau tetap disana, diami sudut paling sunyi
dan suci…

Kamis, 11 Agustus 2011

Cintai Nya

Sang Kuasa selalu punya rencana indah untuk kita umatNya
Sesekali langsung membahagiakan hati…
Terkadang sejenak bertentangan dengan harap
Kau hanya perlu mensyukuri dan merenungi
Usah kau terus mempertanyakan, buang semua logika
Berdoalah senantiasa… dan syukuri baik buruk yang kau rasa
Saat kau berniat baik dan meminta yang terbaik, itulah yang kan Dia beri
Terkadang seketika… seringkali harus lalui hari yang menguji hati
Selalu ada rencana indah untukmu
Walau seringkali kau melupakanNya
Selalu ada rencana indah bagimu
Jika kau terus meminta padaNya